Globalisasi dan Konvergensi Media
Topik yang ingin kami bahas hari ini adalah konvergensi media dan pengaruhnya secara kultural. Apa sih konvergensi media itu? Konvergensi media bukan hanya merupakan pergeseran teknologi (Jenkins, 2004). Konvergensi mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, genre, dan khalayak yang sudah ada.
Smartphone sebagai
contoh, memperluas kerja sebuah telepon genggam yang tadinya berfungsi hanya
untuk melakukan telepon dan sms, kini dapat digunakan untuk mendengarkan musik,
menonton/streaming film, browsing internet, dan lain-lain. Seseorang
dapat merekam, menonton, menulis, hingga menyebarkan suatu konten kepada
khalayak di seluruh dunia lewat internet dengan sangat mudah.
Hal ini tentunya sangat berdampak pada penyebaran budaya
dari satu wilayah atau negara ke wilayah yang berbeda. Tinggi atau rendahnya
konvergensi juga berbeda tergantung pada kultur yang dimiliki tiap negara,
mereka yang lebih makmur dan terbiasa dengan teknologi akan menjadi early adapters dan mereka yang
kondisinya kurang berkembang akan sulit untuk mengejar ketinggalan.
Salah satu aspek kultur yang mau tidak mau pasti terkena
pengaruh konvergensi media adalah globalisasi itu sendiri. Asumsinya,
globalisasi seringkali didefinisikan atau diibaratkan dengan pernyataan bahwa
budaya dari barat—khususnya Amerika Serikat—memasuki wilayah budaya baru di
bagian dunia lainnya (Asia, Afrika) dan menyebabkan proses akulturasi budaya
asing dengan budaya asli yang menjadikan gaya hidup kita sekarang ini.
Nyatanya, definisi globalisasi di atas menjadi sangat dipertanyakan.
Apakah benar imperialisme budaya hanya dikuasai oleh Amerika Serikat? Contoh
yang bisa kita ambil adalah franchise Pokemon
yang berasal dari Jepang kemarin sempat menjadi suatu fenomena global dengan game keluaran terbarunya, Pokemon Go.
Tidak sedikit pula anak-anak Amerika Serikat yang lebih mengetahui karakter The
Mario Brothers keluaran Nintendo, Jepang, daripada Mickey Mouse.
Ada pula fenomena besar-besaran dalam industri musik dunia,
yaitu genre Korean Pop yang sekarang sudah sangat mendunia. Hal ini terbukti
dengan banyaknya lagu-lagu Kpop yang berhasil menempati peringkat teratas pada chart musik berbagai negara di Eropa,
Amerika, hingga Australia. Baru-baru ini pun hal tersebut dibuktikan dengan
keberhasilan band Kpop yang menempati
peringkat #26 di chart Billboard Album 200 yang
tentunya selama ini sangat didominasi oleh musisi asal Amerika Serikat.
Harus diingat pula bahwa hal ini terjadi tidak hanya akibat
besarnya corporate interest baik di
Asia maupun belahan dunia Barat, namun juga disebarluaskan oleh grassroots interest atau pengaruh
masyarakat yang tinggal di negara tersebut, baik seorang penggemar atau pun
imigran asing, yang memiliki kontrol penuh terhadap alur konten media yang
menyebrangi perbatasan nasional.
Intinya, konvergensi media
mengubah sudut pandang kita terhadap era globalisasi. Memang ada beberapa
negara yang mendominasi alur diaspora budaya, tetapi nyatanya hampir setiap
negara di dunia saling melakukan give-and-take
terhadap budaya mereka ke wilayah dengan khalayak baru. Kira-kira tren ini
akan berdampak seperti apa terhadap arus ekonomi dan budaya dunia di masa
depan, ya?





Comments