VIDEO CASTING ANAK BISKUAT, GAMBARAN KUATNYA PERAN MEDIA DI INDONESIA
Belakangan ini, internet diguncang oleh
munculnya video-video audisi casting Biskuat yang memuat anak-anak
berumur belasan tahun pada beberapa tahun silam. Biskuat mengadakan casting untuk
sebuah film yang akan disponsori oleh Biskuat, maka dari itu para anak-anak
tersebut diminta untuk berakting. Dan tidak disangka-sangka banyak aksi-aksi
lucu dari tindakan akting yang mereka lakukan. Banyak dari acting mereka yang
mengikuti acting artis-artis di TV, banyak yang membuat tertawa tetapi juga
banyak yang membuat kita prihatin dan menarik simpati kita. Salah satunya
adalah aksi acting dari Audrey Shalsabila Rizka Putri atau yang banyak dikenal
pula dengan kata-kata andalannya “Gua Tampol Lu”.

Video ini mengundang perhatian banyak orang yang akhirnya memposting
kembali di media sosial dan platform media lainnya, aksi dan cara berbicara Salsa
yang dinilai cukup kasar membawa gelak tawa hingga rasa khawatir netizen. Video ini sebenarnya sudah dipublikasikan di non-official
account Biskuat yang tidak diketahui pemiliknya siapa yaitu Biskuat Semangat, berikut adalah youtube video dari casting Biskuat Audrey Shalsabila Rizka Putri.
Video casting Biskuat Audrey
Salsabila Rizka Putro pun telah sukses diparodikan oleh beberapa pengguna youtube, membuat video aslinya semakin viral dan dibicarakan hampir oleh semua orang.
Video Audrey juga sudah
sampai dimuat sebagai headline media online yang tergolong besar seperti
Malesbanget.com dan Tribunnews.com.
Kasus video casting Biskuat terutama
Audrey Salsabila Rizka Putro atau yang sering kita kenal dengan kata-kata
andalannya “Gua Tampol Lu” merupakan salah satu contoh konkret dari teori technological
determinism.
Technological Determinism sendiri sebenarnya adalah suatu pandangan terhadap
teknologi, memandang dimana perkembangan teknologi di suatu daerah turut
membentuk perubahan perilaku masyarakat dari suatu daerah tersebut. Salah satu
contohnya adalah orang-orang yang berpandangan dengan adanya handphone, orang
menjadi jarang berkomunikasi langsung, atau dengan adanya telfon kita menjadi
tidak mengenal jarak.
Sampai saat ini paparan
media dan teknologi yang sangat besar pengaruhnya bagi anak-anak berasal dari
media televisi. Hampir seluruh anak di Indonesia, apalagi pada beberapa tahun
yang lalu, mengkonsumsi media televisi setiap hari, dan tidak sedikit dari
mereka yang mengikuti apa yang disajikan melalui televisi. Media televisi
adalah salah satu bentuk teknologi broadcasting. Sampai dengan tahun 2015,
perputaran uang dimedia televisi masih begitu besar, begtu pun diprediksi
sampai tahun 2018. Sesuai data survei berikut.
Dengan melihat masih terdapatnya dominasi
besar dari media televisi di Indonesia, perilaku Audrey yang ditunjukkan saat casting Biskuat
merupakan akibat dari paparan teknologi dan media
negatif yang sering ia lihat setiap hari melalui televisi. Banyak sinetron yang
tayang ditelevisi, terkadang memperlihatkan adegan ataupun dialog yang kurang
pantas untuk ditonton oleh anak seumur Audrey yang masih polos, dan belum bisa
mencerna dengan baik mana yang harus diambil dan tidak. Terkadang, regulasi
sering kurang ketat sehingga sinetron-sinetron tersebut banyak yang lolos
sensor dan diperbolehkan tayang, padahal banyak pesan-pesan intrinsik
didalamnya yang sangat berpengaruh bagi psikis anak jika sering dilihat. Mungkin
sasaran tayangan sinetron mereka memang ditujukan untuk kalangan orang dewasa,
tapi sayangnya jam tayang mereka sering berada pada saat prime time, yaitu
sekitar jam 6-8 malam, yang notabene pada saat jam itu anak-anak kecil seumuran
Audrey masih sering terbangun, dan menonton televisi sebelum mereka tidur.Contoh konkretnya adalah salah satu adegan dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series, yaitu ketika Cang Usin memarahi Kardun dengan kata-kata dan tindakan yang kasar, yang ditayangkan oleh RCTI dalam episode 1689 seperti terlihat dalam cuplikan video berikut.
Dengan melihat cuplikan sinetron
Tukang Bubur Naik Haji The Series yang sukses menduduki peringkat Satu
pertelevisian di Indonesia, yang notabene masih menjadi “media panutan”
masyarakat Indonesia, muncul pertanyaan, apakah dapat kita simpulkan bahwa perilaku verbal Audrey
Salsabila Rizka Putro ada kaitannya dengan konten negatif siaran sinetron
Tukang Bubur Naik Haji The Series yang turut mewarnai pertelevisian di
Indonesia selama lima tahun terakhir?
Kelompok C
Alexander Hridaya Bhakti - 1506756293
Alexander Hridaya Bhakti - 1506756293
Annete Lupita - 1506720526
Dewi Rizka - 1506720785
Elgine Harits - 1506720646







Comments
–Seishya Zolanita Elzila (1506685952)-
Yeremia Geoffrey-1506725092
Nadira Bella, 1506686021
Saeka Minami Kalpika (1506686066)
- Evi Kusumaningrum (1506729481)
Dear Tim Penulis,
Post yang menarik karena menarik kasus yang cukup update.
Sesuai dengan konsep sosialisasi dalam sosiologi, anak usia 0-5 tahun memimiliki otak seperti spons, sangat mudah menyerap ilmu dari mana saja dan mencontohkan perilaku mereka yang ada di dekatnya. Sosialisasi berlangsung seumur hidup hingga menutup usia, dan salah satu agen sosialisasi adalah media massa, dimana hingga saat ini media massa memiliki andil yang cukup besar dalam kehidupan manusia.
Meski bagaimanapun, gambaran media Indonesia dengan gambaran media negara 'maju' seperti yang dikonstruksikan beberapa lembaga besar dunia ternyata tidak jauh berbeda. Konten seperti seks, kehidupan bebas dan duniawi sangat mudah ditemukan dan dipraktikkan dalam bermedia, namun regulasi dan sistim perputaran media adalah hal yang membedakannya. Memiliki sistem regulasi adalah salah satu solusi agar media dan pesan didalamnya diberikan kepada mereka yang tepat guna. Sehingga alasan 'bebas berekspresi' tetap dapat digambarkan dan diakses oleh mereka yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, dalam kata lain, sudah dewasa.
Salsa adalah satu dari sekian banyak contoh yang menorehkan bagaimana media bisa berpengaruh kuat dalam perilaku dan cara berpikir, adalah kita sebagai pengamat dan calon peneliti sosial untuk menerapkan ilmu kita dalam membangun Indonesia.
Best Regards,
Abshar
-Qatrunnada Nadhifah 1506720684
Melihat dampak media yang cukup besar, ternyata bisa dilihat bahwa tidak hanya memberikan dampak positif, namun juga dampak negatif. Sayangnya, anak-anak tidak bisa memilah apa yang baik dan apa yang buruk yang bisa mereka konsumsi di media. Itulah mengapa anak-anak butuh untuk diberi pengetahuan mengenai literasi media, agar mereka juga cukup "pintar" dalam menggunakan media, dan dapat memilih konten media sesuai dengan umur dan budaya serta nilai yang ada di masyarakat.
Sukses!
Yasmin Nur Fatimah - 1506686192
Salam,
Amalia Mahdini-1506686034
Terima kasih :)
Alvina Liyandra - 1506723471
Adanya perilaku "Imitasi" atau menirukan gaya dan tindakan dari orang lain yang telah anak-anak tersebut saksikan di media, masih menjadi perhatian penting bagi para pengguna Internet khususnya orangtua dari anak-anak. Saya sangat setuju, ketika kelompok membahas adanya pengaruh negatif dalam penggunaan kata-kata yang tidak sopan, yang mana bisa jadi berdampak buruk untuk orang lain untuk diikuti. Jika pada contoh adanya kata-kata yang tidak pantas dalam sinetron yakni Tukang Bubur Naik Haji, bisa kita perhatikan juga banyak sinetron dengan pemain Anak-anak dan latar cerita kehidupan anak-anak yang juga masih menggunakan dialog yang tidak sesuai dengan usia anak-anak. Hal ini tentunya masih menjadi perhatian dan tantangan bagi semua pihak untuk mengedukasi hal yang baik kepada anak-anak bukan hal yang negatif.
Salam,
Geraldy Justin C
1506686204
Kepemilikan tv oleh para konglomerat sulit di atur oleh pemerintah, belum lagi hubungan dekat diantaranya membuat remeh masalah ini. Beberapa lembaga terus berjuang untuk membenarkan yang seharusnya, semoga kedepannya program TV menjadi berkualitas. Literasi masyarakat untuk tetap menjadi dirinya sendiri juga seharusnya dibuktikan oleh masyarakatnya sehingga program tv tidak melulu harus mengikuti realita yang "drama-drama" saja atau memang tujuan mereka meraup keuntungan tanpa memikirkan efek sampingnya?
Muhammad Fikri Aulia -1506756583
Kemudian mengenai video anak-anak biskuat ini, sebenarnya saya justru prihatin mengenai peredarannya. Video ini sebenarnya merupakan bentuk privasi yang dapat disebarluaskan dengan mudah di internet. Saya pribadi tidak bisa membayangkan bagaimana perubahan kondisi sosial di sekitar apabila saya adalah salah satu anak-anak biskuat tersebut. Disaat pengguna internet sedang tertawa terbahak-bahak menonton video, anak-anak tersebut di luar sana sedang berusaha sedemikian rupa untuk menahan malu.
Viesa Zalsiah, 1506755662
Winona Amabel 1506730861
Margaretha Nazhesda (1506686135)
Christopher Amaerendra (1506720564)
Annisa Kurnia I C 1506685990
Aditama
1506755523
Kenny Hutomo - 1506720532
Pada anak-anak, umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak tertutup kemungkinan perilaku dan sikap mereka akan meniru kekerasan verbal maupun fisik yang ditayangkan di televisi yang mereka tonton. Solusinya adalah, baik dari pihak orangtua, production house, dan pemerintah (yaitu KPI) bersama-sama melakukan tindakan pengawasan terhadap tontonan anak.
Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengawasi apa yang anak-anak mereka tonton, dari production house juga seharusnya lebih selektif dalam memproduksi film, dengan memperhatikan kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan dari film mereka.
Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, sudah seharusnya kita melindungi mereka dari segala pengaruh negatif yang diakibatkan oleh media.
Regards,
Ellena Lois 1605724404