VIDEO CASTING ANAK BISKUAT, GAMBARAN KUATNYA PERAN MEDIA DI INDONESIA


Belakangan ini, internet diguncang oleh munculnya video-video audisi casting Biskuat yang memuat anak-anak berumur belasan tahun pada beberapa tahun silam. Biskuat mengadakan casting untuk sebuah film yang akan disponsori oleh Biskuat, maka dari itu para anak-anak tersebut diminta untuk berakting. Dan tidak disangka-sangka banyak aksi-aksi lucu dari tindakan akting yang mereka lakukan. Banyak dari acting mereka yang mengikuti acting artis-artis di TV, banyak yang membuat tertawa tetapi juga banyak yang membuat kita prihatin dan menarik simpati kita. Salah satunya adalah aksi acting dari Audrey Shalsabila Rizka Putri atau yang banyak dikenal pula dengan kata-kata andalannya “Gua Tampol Lu”.







      Video ini mengundang perhatian banyak orang yang akhirnya memposting kembali di media sosial dan platform media lainnya, aksi dan cara berbicara Salsa yang dinilai cukup kasar membawa gelak tawa hingga rasa khawatir netizen. Video ini sebenarnya sudah dipublikasikan di non-official account Biskuat yang tidak diketahui pemiliknya siapa yaitu Biskuat Semangat, berikut adalah youtube video dari casting Biskuat Audrey Shalsabila Rizka Putri.



Video casting Biskuat Audrey Salsabila Rizka Putro pun telah sukses diparodikan oleh beberapa pengguna youtube, membuat video aslinya semakin viral dan dibicarakan hampir oleh semua orang. 


Video Audrey juga sudah sampai dimuat sebagai headline media online yang tergolong besar seperti Malesbanget.com dan Tribunnews.com.

Kasus video casting Biskuat terutama Audrey Salsabila Rizka Putro atau yang sering kita kenal dengan kata-kata andalannya “Gua Tampol Lu” merupakan salah satu contoh konkret dari teori technological determinism.

Technological Determinism sendiri sebenarnya adalah suatu pandangan terhadap teknologi, memandang dimana perkembangan teknologi di suatu daerah turut membentuk perubahan perilaku masyarakat dari suatu daerah tersebut. Salah satu contohnya adalah orang-orang yang berpandangan dengan adanya handphone, orang menjadi jarang berkomunikasi langsung, atau dengan adanya telfon kita menjadi tidak mengenal jarak.

Sampai saat ini paparan media dan teknologi yang sangat besar pengaruhnya bagi anak-anak berasal dari media televisi. Hampir seluruh anak di Indonesia, apalagi pada beberapa tahun yang lalu, mengkonsumsi media televisi setiap hari, dan tidak sedikit dari mereka yang mengikuti apa yang disajikan melalui televisi. Media televisi adalah salah satu bentuk teknologi broadcasting. Sampai dengan tahun 2015, perputaran uang dimedia televisi masih begitu besar, begtu pun diprediksi sampai tahun 2018. Sesuai data survei berikut.
DATA AD SPENDING INDONESIA 2015, SUMBER: SEMUTAPI

DATA AD SPENDING INDONESIA, SUMBER: SEMUTAPI

Dengan melihat masih terdapatnya dominasi besar dari media televisi di Indonesia, perilaku Audrey yang ditunjukkan saat casting Biskuat merupakan akibat dari paparan teknologi dan media negatif yang sering ia lihat setiap hari melalui televisi. Banyak sinetron yang tayang ditelevisi, terkadang memperlihatkan adegan ataupun dialog yang kurang pantas untuk ditonton oleh anak seumur Audrey yang masih polos, dan belum bisa mencerna dengan baik mana yang harus diambil dan tidak. Terkadang, regulasi sering kurang ketat sehingga sinetron-sinetron tersebut banyak yang lolos sensor dan diperbolehkan tayang, padahal banyak pesan-pesan intrinsik didalamnya yang sangat berpengaruh bagi psikis anak jika sering dilihat. Mungkin sasaran tayangan sinetron mereka memang ditujukan untuk kalangan orang dewasa, tapi sayangnya jam tayang mereka sering berada pada saat prime time, yaitu sekitar jam 6-8 malam, yang notabene pada saat jam itu anak-anak kecil seumuran Audrey masih sering terbangun, dan menonton televisi sebelum mereka tidur.



Contoh konkretnya adalah salah satu adegan dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series, yaitu ketika Cang Usin memarahi Kardun dengan kata-kata dan tindakan yang kasar, yang ditayangkan oleh RCTI dalam episode 1689 seperti terlihat dalam cuplikan video berikut.



Tukang Bubur Naik Haji The Series sendiri merupakan sinetron RCTI yang disiarkan mulai tahun 2012. Kesuksesannya menghasilkan 2.185 episode, membuat Tukang Bubur Naik Haji The Series tutup usia pada tahun 2017, dengan memenangkan penghargaan Panasonic Gobel Award for Favorite Drama Series Program.


Dengan melihat cuplikan sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series yang sukses menduduki peringkat Satu pertelevisian di Indonesia, yang notabene masih menjadi “media panutan” masyarakat Indonesia, muncul pertanyaan, apakah dapat kita simpulkan bahwa perilaku verbal Audrey Salsabila Rizka Putro ada kaitannya dengan konten negatif siaran sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series yang turut mewarnai pertelevisian di Indonesia selama lima tahun terakhir?


Kelompok C
Alexander Hridaya Bhakti - 1506756293
Annete Lupita - 1506720526
Dewi Rizka - 1506720785
Elgine Harits - 1506720646

Comments

Unknown said…
Saya prihatin dengan kasus yang diutarakan diatas, terlepas dari kelucuan yang ditimbulkan karena mereka masih anak-anak, kasus biskuat menjadi bukti lemahnya peran orang tua dalam perilaku anak menggunakan media. Dapat kita perhatikan komersialisasi media di Indonesia, terutama televisi yang memiliki daya siar tinggi, mengakibatkan konten yang ditayangkan mengedepankan rating sehingga banyak yang sekedar menjual mimpi (lewat penggunaan artis rupawan dan barang serta rumah mewah contohnya berkah cinta), menayangkan kekerasan (contohnya 7 manusia harimau), unsur mistis (contohnya rahasia ilahi) dengan mengklaim sebagai 'tontonan keluarga' dan menduduki waktu tayang prime time. Tentunya kondisi psikologis anak belum siap dengan hal tersebut karena mereka belum dapat membedakan yang mana realita dan fiksi, berdasarkan keterangan dari Lembaga Psikologi KANCIL. Oleh karena itu peran orang tua untuk melindungi anak sangat diharapkan dalam mengenalkan dasar-dasar literasi kepada anak. - Amelia Natasha, 1506755510
Unknown said…
Post yang menarik sekali untuk dibaca dengan mengangkat topik yang up-to-date! Post ini juga dapat dilihat dari sudut pandang social determinism of technology dimana kebutuhan masyarakat mempengaruhi perkembangan teknologi. Adanya keingin masyarakat akan hiburan menghadirkan televisi yang berlanjut ke internet dengan hadirnya youtube. Inilah yang menjadikan banyak video – video lucu yang tersebar sebagai bahan hiburan masyarakat.
–Seishya Zolanita Elzila (1506685952)-
Unknown said…
Artikel ini sangat menarik. Media memang memiliki efek yang beragam dengan intensitas yang beragam pula, terutama pada anak-anak. Konten media yang disiarkan televisi memiliki efek yang besar terhadap anak-anak karena mereka adalah subjek yang mudah terpengaruh. Apa yang dipraktikkan di kehidupan mereka bisa jadi adalah hasil pengamatan dari tayangan televisi yang ditonton. Oleh karena itu, pihak produsen konten media sangat perlu memerhatikan standar acaranya dan perlunya pengawasan orang tua untuk acara televisi dengan rating tertentu serta bimbingan mengenai hal terkait. - Arifianka R. Buhron (1506685984)
Unknown said…
Peran Media di Indonesia memang besar di Indonesia. Berdasarkan data diatas juga konsumsi media cukup las di banyak kalangan pihak.Tersebarnya video lucu tersebut dapat dibilang sebagai budaya baru dalam masa internet. Dimana para usernya saling berbagi konten yang mungkin bukan miliknya dan menjadikan hal itu sebagai konsumsi bersama. Mereka pun saling mengulang hal yang lucu tersebut berulang-ulang hingga menjadi referensi dalam interaksi maya (catchphrase Gue Tampol lo). Budaya ini pun makin ditekankan dengan adanya video parodi yang dibuat berdasarkan video tersebut. Budaya ini menekankan sifat media baru yang trans-media dan dengan gampang berpindah medium membentuk budaya kolek tif.

Yeremia Geoffrey-1506725092
Unknown said…
Meskipun jika dilihat secara sekilas video-video ini lucu dan menggelitik perut, namun jika dilihat kembali ada rasa iba dan kecewa dengan media yang telah membentuk anak-anak Indonesia menjadi seperti ini. Akting yang mereka tahu adalah akting yang marah-marah dan memaki-maki orang lain, terlebih orang yang mereka anggap lebih rendah derajatnya. Mereka tidak mengenal akting yang saling menyayangi dan saling menghargai antar manusia karena mungkin bagi produser sinetron akting seperti itu tidak akan menaikkan rating. Sungguh sayang sekali bahwa pola pikir anak-anak harus dikorbankan demi rating dan uang semata.

Nadira Bella, 1506686021
Unknown said…
Selain memberi contoh konkret dari Technological Determinism, video-video audisi Biskuat ini juga memperlihatkan bagaimana internet dengan mudahnya dapat memberi data seseorang. Setelah muncul dalam video audisi Biskuat dan menjadi viral, dalam waktu beberapa hari atau bahkan beberapa jam saja sudah ada artikel mengenai Audrey karena telah dilacak akun instagramnya (contohnya seperti artikel berikut: http://style.tribunnews.com/amp/2017/05/22/masih-ingat-salsa-bocah-biskuat-ini-lihat-penampilannya-sekarang-udah-jadi-model-sob). Informasi mengenai Audrey termasuk foto-foto, usia, dan sekolah Audrey dapat diketahui dengan sekejap. Hal ini mengindikasikan privasi akan data diri seseorang sudah semakin pudar. Sebagai pengguna internet, tentunya kita harus lebih berhati-hati dalam memberikan data pribadi kita di media-media online.

Saeka Minami Kalpika (1506686066)
Nadine said…
Saya sedikit menaikkan alis ketika melihat pembahasan kalian mengenai kasus video audisi Biskuat ini. Sebenarnya, saya mengharapkan pembahasan tentang bagaimana identitas pribadi anak-anak ini diungkap (disebutkan nama lengkap dan kota asalnya), dimana video ini bisa menjadi sumber olok-olok bagi mereka yang kini sudah beranjak dewasa. Bahkan salah satu pesertanya yang kalian bahas disini, Audrey, ramai dikomentari dan ditanya-tanya perihal audisi yang dilakukannya semasa kecil di akun Instagram pribadinya. Namun, saya cukup senang dengan pembahasan kalian yang memberikan sudut pandang baru perihal kasus ini; sudut pandang yang belum diangkat oleh media-media lain. -Btari Nadine Isaputri (1506756186)
Grummers said…
Sebuah post yang menarik dari kelompok ini. Saya setuju dengan dua komentar di atas bahwa kelompok melupakan beberapa hal seperti data pribadi peserta audisi yang terbongkar, bahkan sampai bisa dilacak akun instagram pribadinya, dan cyberbullying yang juga dialami anak-anak peserta audisi dalam video ini.Banyak netizen yang tak hanya sekedar memberi komentar banyolan, tetapi juga ejekan atas kualitas akting anak-anak dalam video ini yang memang masih dalam tahap belajar. Semoga netizen ke depannya dapat melihat video-video seperti ini dengan lebih apresiatif atas usaha anak-anak yang ingin belajar akting
- Evi Kusumaningrum (1506729481)
Abary said…
Abshar Aryun- 1506756242

Dear Tim Penulis,

Post yang menarik karena menarik kasus yang cukup update.

Sesuai dengan konsep sosialisasi dalam sosiologi, anak usia 0-5 tahun memimiliki otak seperti spons, sangat mudah menyerap ilmu dari mana saja dan mencontohkan perilaku mereka yang ada di dekatnya. Sosialisasi berlangsung seumur hidup hingga menutup usia, dan salah satu agen sosialisasi adalah media massa, dimana hingga saat ini media massa memiliki andil yang cukup besar dalam kehidupan manusia.

Meski bagaimanapun, gambaran media Indonesia dengan gambaran media negara 'maju' seperti yang dikonstruksikan beberapa lembaga besar dunia ternyata tidak jauh berbeda. Konten seperti seks, kehidupan bebas dan duniawi sangat mudah ditemukan dan dipraktikkan dalam bermedia, namun regulasi dan sistim perputaran media adalah hal yang membedakannya. Memiliki sistem regulasi adalah salah satu solusi agar media dan pesan didalamnya diberikan kepada mereka yang tepat guna. Sehingga alasan 'bebas berekspresi' tetap dapat digambarkan dan diakses oleh mereka yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, dalam kata lain, sudah dewasa.

Salsa adalah satu dari sekian banyak contoh yang menorehkan bagaimana media bisa berpengaruh kuat dalam perilaku dan cara berpikir, adalah kita sebagai pengamat dan calon peneliti sosial untuk menerapkan ilmu kita dalam membangun Indonesia.

Best Regards,

Abshar
Sesungguhnya kondisi ini sangatlah memprihatinkan dimana konsep Technological Determinism sangat kental, dimana seseorang menjadi terpengaruh nilai dan budayanya karena hadirnya teknologi. Budaya yang seperti ini lah yang merupakan bentuk dari dampak buruk yang diperoleh dari hadirnya teknologi. Dengan keadaan yang seperti ini, diharapkan bagi orangtua untuk memberikan literasi media yang lebih baik kepada anak-anaknya, agar tidak terciptanya kebiasaan atau kebudayaan seperti yang dicerminkan oleh video Biskuat tersebut.

-Qatrunnada Nadhifah 1506720684
Unknown said…
Beberapa adegan casting biskuat tersebut benar kebanyakan ialah adegan-adegan yang pernah ada di sinetron maupun infotainment. Hal ini mencerminkan bagaimana pengaruh media terhadap anak-anak begitu kuat dan teringat jelas dimemorinya, salah satunya ketika diminta menirukan menjadi pengemis hampir semuanya ber-acting dengan gelagat tangan pengemis yang sama. Walaupun begitu, beberapa perusahaan media, khususnya televisi, tetap memproduksi tayangan sinetron untuk kepentingan ekonomi dan semata karena kepentingan rating.
Unknown said…
- Khairunnisa Nirmala (1506685920)
Unknown said…
Post yang menarik! Karena fenomena ini baru saja heboh di berbagai media sosial, tidak hanya anak muda yang berkomentar, namun orang tua juga ikut memberi pendapatnya terkait hal yang dilakukan oleh anak-anak tersebut.
Melihat dampak media yang cukup besar, ternyata bisa dilihat bahwa tidak hanya memberikan dampak positif, namun juga dampak negatif. Sayangnya, anak-anak tidak bisa memilah apa yang baik dan apa yang buruk yang bisa mereka konsumsi di media. Itulah mengapa anak-anak butuh untuk diberi pengetahuan mengenai literasi media, agar mereka juga cukup "pintar" dalam menggunakan media, dan dapat memilih konten media sesuai dengan umur dan budaya serta nilai yang ada di masyarakat.

Sukses!

Yasmin Nur Fatimah - 1506686192
Unknown said…
Pada awalnya saya melihat video ini sebagai sesuatu hal yang lucu, namun kemudian benar adanya bahwa mereka merupakan korban dari pengaruh media mainstream yang kadang mengandung konten yang tidak sesuai dengan khalayak yang menyaksikannya. Dengan melihat berbagai macam video, mereka memang memperlihatkan adegan yang serupa, terlihat bahwa bagaimana luasnya jangkauan media mainstream. Sebaiknya media di Indonesia juga membenahi diri, untuk menciptakan konten yang memang bermutu. Tidak hanya karena mendapatkan rating yang tinggi sehingga jalan ceritanya pun lama-kelamaan tidak karuan karena tuntuan tayang, bukan karena ide yang menarik. Selain itu peranan orang tua juga sangat dibutuhkan untuk selalu mengawasi anak-anaknya, namun lagi-lagi hal ini kadang dihalangi oleh rendahnya literasi media para orang tua yang tidak menelaah dengan tepat konten mana yang pantas ataupun tidak. Akibat lebih jauh yang dapat dilihat adalah bagaimana anak-anak ini kemudian menjadi korban cyber bullying karena banyak yang menertawakan mereka, padahal di sini mereka merupakan korban dari media. - Dhika Pertiwi (1506755605)
Amalia Mahdini said…
Biskuat cari aktor ini memang sangat menarik. Saya pun memilik masukan yang mungkin dapat menjadi informasi tambahan pada tulisan ini. Audisi biskuat itu sendiri dilakukan pada tahun 2013 jika saya tidak salah, akan tetapi baru viral pada tahun ini. Mungkin tim penulis juga bisa membahas hal tersebut dan memperkuat alasan peran media di Indonesia. Mungkin karena videonya yang menarik, sensasional, atau apapun. Fenomena sinteron tanpa episode akhir ini pun menjadi masalah sendiri sepertinya. Pada akhirnya memang konten media yang berbicara. Jangan lupa caption dan emoji yang mendukung agar meraih lebih banyak perhatian para netter.

Salam,
Amalia Mahdini-1506686034
alvinaliyandra said…
Kondisi bangsa Indonesia memang semakin memprihatinkan saja! Saya setuju, bahwa terpaparnya anak-anak terhadap adegan-adegan tertentu di televisi Indonesia sangat mempengaruhi psikologi anak. Adegan-adegan dengan kata-kata kasar dan mencemooh, serta adegan penuh bullying hanya merupakan salah satu dari adegan yang mengubah perilaku anak-anak Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Namun selain regulasi televisi dan KPI yang kurang ketat, kurangnya perhatian orang tua pada tontonan anak-anaknya juga sangat memprihatinkan di Indonesia. Ingat bahwa, kewajiban untuk melindungi anak-anak bangsa Indonesia dari pengaruh-pengaruh buruk yang banyak beredar di televisi maupun media lain bukan hanya merupakan kewajiban KPI, LSF, televisi ataupun media lainnya. Namun, itu merupakan kewajiban bersama, termasuk orang tua pula sehingga sudah sepantasnya kita, sebagai bagian dari masyarakat yang melek terhadap media, menyadarkan publik, terutama para orang tua, tentang pentingnya media literasi.

Terima kasih :)
Alvina Liyandra - 1506723471
Unknown said…
Kasus ini sangat kekinian dan secara jelas menunjukkan realitas yang terjadi di masyarakat. Saya juga memerhatikan bagaimana perkembangan masyarakat ikut serta menyebarkan postingan mengenai "Video Biskuat" ini. Terlepas dari membahas mengenai perkembangan teknologi yang turu serta berperan besar dalam membuat pesan maupun informasi yang hanya diketahui sedikit orang dan menjadi global, saya juga ingin berkomentar mengenai ketidakpatutan perilaku yang ditampilkan oleh anak-anak dalam video biskuat tersebut.

Adanya perilaku "Imitasi" atau menirukan gaya dan tindakan dari orang lain yang telah anak-anak tersebut saksikan di media, masih menjadi perhatian penting bagi para pengguna Internet khususnya orangtua dari anak-anak. Saya sangat setuju, ketika kelompok membahas adanya pengaruh negatif dalam penggunaan kata-kata yang tidak sopan, yang mana bisa jadi berdampak buruk untuk orang lain untuk diikuti. Jika pada contoh adanya kata-kata yang tidak pantas dalam sinetron yakni Tukang Bubur Naik Haji, bisa kita perhatikan juga banyak sinetron dengan pemain Anak-anak dan latar cerita kehidupan anak-anak yang juga masih menggunakan dialog yang tidak sesuai dengan usia anak-anak. Hal ini tentunya masih menjadi perhatian dan tantangan bagi semua pihak untuk mengedukasi hal yang baik kepada anak-anak bukan hal yang negatif.

Salam,
Geraldy Justin C
1506686204
Unknown said…
Terimakasih atas informasinya, kasus tersebut menunjukan bahwa apa yang diserap oleh anak-anak melalui televisi (konteks televisi) memang mempengaruhi pola pikirnya, sementara acara tv yang ada di Indonesia masih banyak menuai kontroversi. Kemajuan teknologi bisa mematikan barang lama, tv pun bisa ikutan mati, adanya platform youtube bisa membuat tv tersebut mati. Maka tv pun mengikuti apa yang masyarakat Indonesia suka, salah satunya ialah "drama". Kepemilikan tv yang dimiliki oleh sedikit orang membuatnya menjadi bisnis hiburan yang menguntungkan, belum lagi channel TV yang ada di Indonesia mengacu kepada apa yang ada di "Jakarta" saja sehingga acara tv yang dibuat kebanyakan mengikuti realitas apa yang ada di Jakarta, gaya bahasa, watak , budaya dll.

Kepemilikan tv oleh para konglomerat sulit di atur oleh pemerintah, belum lagi hubungan dekat diantaranya membuat remeh masalah ini. Beberapa lembaga terus berjuang untuk membenarkan yang seharusnya, semoga kedepannya program TV menjadi berkualitas. Literasi masyarakat untuk tetap menjadi dirinya sendiri juga seharusnya dibuktikan oleh masyarakatnya sehingga program tv tidak melulu harus mengikuti realita yang "drama-drama" saja atau memang tujuan mereka meraup keuntungan tanpa memikirkan efek sampingnya?

Muhammad Fikri Aulia -1506756583
Unknown said…
This comment has been removed by the author.
Unknown said…
Wah, artikel ini sangat informatif karena bisa mengaitkan video anak biskuat dengan kekuatan televisi dalam membentuk budaya di anak-anak Indonesia!Saya setuju sekali dengan kelompok, bahwa banyak anak-anak pada sekarang ini yang mengikuti apa yang ditontonnya di televisi. Dan yang sangat disayangkan adalah produk televisinya pun masih banyak yang melanggar aturan. Stasiun televisi sebagai pengampu pertama seharusnya membuat semacam aturan regulasi mengenai standar sinetron yang akan dibuat. Bukan hanya mementingkan rating dan share saja. Karena memang pada faktanya, televisi memiliki daya yang kuat untuk memberikan nilai kepada masyarakat.

Kemudian mengenai video anak-anak biskuat ini, sebenarnya saya justru prihatin mengenai peredarannya. Video ini sebenarnya merupakan bentuk privasi yang dapat disebarluaskan dengan mudah di internet. Saya pribadi tidak bisa membayangkan bagaimana perubahan kondisi sosial di sekitar apabila saya adalah salah satu anak-anak biskuat tersebut. Disaat pengguna internet sedang tertawa terbahak-bahak menonton video, anak-anak tersebut di luar sana sedang berusaha sedemikian rupa untuk menahan malu.

Viesa Zalsiah, 1506755662
Winona Amabel said…
Halo, artikel yang menarik sekali sih menurut saya karena menghubungkan akting spontan dan polos anak-anak dengan produk media yang dikonsumsi anak-anak. Acara televisi ‘Anak Jalanan’ dan ‘Ganteng-Ganteng Serigala’ merupakan tayangan yang dibuat dengan orientasi keuntungan semata, sehingga mengesampingkan kualitas kontennya, termasuk unsur kekerasan yang dapat memengaruhi audiens yang mengonsumsinya, terutama anak-anak. Terima kasih atas informasinya!

Winona Amabel 1506730861
Margareth said…
Hai! Postingan kelompok kalian sangat membahas isu terkini yang sedang ramai diperbincangkan! Lagi-lagi kekuatan dari media dapat memberikan dampak kepada pola pikir masyarakatnya khususnya anak-anak. Melihat bagaimana teknologi membuat masyarakat terekspos secara masif. Anak-anak merupakan golongan yang sangat rentan untuk terpengaruhi oleh media khususnya televisi. Bayangkan saja, gadis kecil sudah dapat berlagak kasar seperti itu walaupun hanya akting namun sangat memprihatinkan untuk meniru adegan yang tidak baik. Dilansir dari http://www.remotivi.or.id/meja-redaksi/224/Eksploitasi-Anak-di-Televisi, media memiliki peran penting bagi anak sebagai generasi di masa mendatang. Pertanyaannya kembali lagi kepada soal regulasi yang ada namun terus dilanggar oleh stasiun televisi tertentu yang mengandung konten acara yang tidak mendidik. Kalau sudah seperti ini, perlu salahkan siapa ya?

Margaretha Nazhesda (1506686135)
Unknown said…
This comment has been removed by the author.
Unknown said…
Teknologi yang sudah maju dan berkembang seperti sekarang ini memang dapat sangat memberikan keuntungan apabila dimanfaatkan dengan baik pula oleh penggunanya. Seperti contohnya, hal-hal simpel seperti anak-anak lucu yang sedang melakukan audisi saja bisa seterkenal itu di internet dan sosial media. Banyak contoh-contoh kasus lain seperti ini di mana menggambarkan media memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat seseorang yang tadinya bukan apa-apa menjadi viral. Semoga fitur dan keunggulan yang dimiliki media baru ini tidak dimanfaatkan dengan buruk dan disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Christopher Amaerendra (1506720564)
annisa said…
Teori Determinisme Teknologi sangat cocok dengan kasus Biskuat ini, teknologi dan media sangat dekat dengan dengan masyarakat. bahkan membentuk pola pikir masyarakat, melihat video biskuat Audrey dan beberapa anak lainnya membuat saya sadar bahwa kurangnya peran orangtua dalam membimbing dan menemani anaknya saat terpapar dengan media, terlihat jelas pada beberapa video tersebut mereka yang berakting persis seperti orang dewasa yang sering terlihat di beberapa sinetron Indonesia. sehingga, untuk membentuk generasi yang lebih baik, harus dilakukan pengawasan secara bijak dari orangtua.

Annisa Kurnia I C 1506685990
Unknown said…
This comment has been removed by the author.
Unknown said…
Wah! Artikel ini sangat menarik sekali untuk dibaca kita semua dan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Sangat disayangkan bahwa anak-anak tersebut mendapatkan pengaruh negatif dari media yang mereka tonton. Seharusnya orang tua dapat menemani anak-anak dengan memberikan bimbingan ketika sedang menggunakan media. Media dapat memberikan dampak positif ataupun negatif. Untuk meminimalisir dampak negatif dapat pula dengan melakukan pendidikan literasi media agar diri terproteksi dari pengaruh negatif tersebut. Konglomerasi yang ada pada industri pertelevisian di Indonesia pun membuat tayangan-tayangan yang ada mayoritas seragam.

Aditama
1506755523
Unknown said…
Terima kasih atas pembahasannya, cukup menambah wawasan. Technology determinism sebagai salah satu teori yang mendasari tulisannya dirasa tepat. Kasus biskuat yang sedang viral sekarang dan serial Tukang Bubur Naik Haji yang menampilkan kata kasar tidak terlepas dari pengaruh teknologi yang berperan besar dalam proses penyebarannya. Berbagai elemen masyarakat terpapar kasus ini dan diantara mereka banyak yang berubah perilakunya setelah mengkonsumsi tayangan tersebut. Oleh karena itu perlu ada berbagai pihak yang terlibat dalam menyaring konten-konten media yang ada. Penyaringan dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah dan juga orang tua masing-masing individu dalam mengatur apa yang baik dan buruk.

Kenny Hutomo - 1506720532
Hanief said…
Ketika sebuah fenomena menjadi viral, bisa menimbulkan dapak negatif dan positif bagi khalayak. Video biskuat semangat yang tiba tiba viral ini menimbulkan banyak gelak tawa bagi yang menonton, tetapi di satu sisi mungkin hal seperti itu yang mereka tidak banggakan. Hal ini juga bisa dilihat dari sisi di mana teknologi merubah pandangan khalayak bahwa kurangnya perna orang tua sehingga membuat sikap yang menurut banyak orang kurang baik pada anak-anak. Hanief Bagus Pratama - 1506756154
Saya termasuk orang - orang yang menonton video - video biskuat dan merasa jengah akan ekspresi anak - anak yang ada di video tersebut. Di satu sisi, anak - anak tersebut memiliki kepercayaan diri untuk mengekspresikan sesuatu dan mengikuti audisi, namun konten bahasa yang diucapkan oleh anak - anak tersebut membuat saya sedikit kaget. Tentunya saya setuju bahwa mereka terpapar oleh hal - hal itu sehingga mengaplikasikannya dalam adegan audisi mereka tersebut, namun hal ini dapat di antisipasi dengan adanya pengawasan orangtua, dan guru. Selain itu, para pelaku media dan produsen konten perlu memikirkan dampak yang akan terjadi sebelum menyajikan sesuatu ke khalayak luas. Menurut saya, Para produsen konten perlu memproduksi konten yang sesuai nilai - nilai dan lebih realistis. Sarah Annida H.H 1506685933
Unknown said…
Masyarakat awam melihat video biskuat ini sebagai sebuah kelucuan. Namun, sudah seharusnya kita sebagai anak komunikasi melihat lebih dalam lagi fenomena yang sebenarnya terjadi pada akting anak-anak ini.

Pada anak-anak, umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak tertutup kemungkinan perilaku dan sikap mereka akan meniru kekerasan verbal maupun fisik yang ditayangkan di televisi yang mereka tonton. Solusinya adalah, baik dari pihak orangtua, production house, dan pemerintah (yaitu KPI) bersama-sama melakukan tindakan pengawasan terhadap tontonan anak.
Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengawasi apa yang anak-anak mereka tonton, dari production house juga seharusnya lebih selektif dalam memproduksi film, dengan memperhatikan kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan dari film mereka.
Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, sudah seharusnya kita melindungi mereka dari segala pengaruh negatif yang diakibatkan oleh media.

Regards,
Ellena Lois 1605724404

Popular Posts