Tren Berita Hoax: Kegaduhan Rencana Penggulingan Jokowi

Di kalangan netizen akhir-akhir ini, marak diperbincangkan seputar Fake News atau yang biasa disebut sebagai Hoax. Menurut "Battling The Fake News", salah satu dalang dibalik kehadiran Fake News adalah Government atau pihak pemerintah di suatu negara itu sendiri. Tujuannya bisa jadi berbagai macam, untuk mempertahankan kekuasaannya atas suatu wilayah di periode mendatang, atau menggulingkan kompetitor politik dan lain sebagainya. 

Banyak dari kita yang merasa bahwa kepalsuan dan kekeliruan dalam berita merupakan suatu aksi yang seharusnya dipertanggungjawabkan kepada para praktisi jurnalisme, padahal yang perlu kita fokuskan dalam upaya menghapuskan kebiasaan menyebarkan Fake News tentunya yaitu mereka yang merupakan masyarakat awam, mereka yang tidak paham akan literasi media. Target sasaran dari Fake News ini kebanyakan adalah masyarakat yang seperti di atas, yang sudah sangat terpapar dengan media internet dan memiliki power untuk melakukan "share" tanpa melakukan verifikasi.



Dalam satu minggu terakhir, orang heboh berdebat seputar kebenaran dari tulisan Allan Nairn, seorang jurnalis investigatif asal Amerika Serikat yang mengatakan terdapat tokoh-tokoh yang ingin menggulingkan Presiden Jokowi. Dengan berani di dalam tulisannya melalui website theintercept.com, beliau mengatakan secara jelas nama-nama tokoh ini, yang di dalamnya ada Gatot Nurmantyo dan Presiden ke-6 kita, Susilo Bambang Yudhoyono. 

Senin, 8 Mei 2017, Aiman Witjaksono melakukan wawancara langsung dengan Allan Nairn di Kompas TV. Beliau pun mempertanyakan kedekatan Allan dengan TNI, bagaimana sampai-sampai Allan dapat mewawancarai langsung Jendral TNI dan Purnawirawannya sebanyak 10 orang, sedangkan kalau melihat sejarahnya Allan sempat di penjara karena mengkritisi ABRI perihal Timor Timur pada tahun 1999. Dan menurut Aiman, sangat tidak masuk akal ketika TNI mau melakukan Makar, kemudian bercerita kepada Allan, keuntungan bagi Allan itu apa?

Aiman merupakan contoh jurnalis Indonesia yang sangat baik. Beliau memiliki kompetensi memverifikasi suatu produk jurnalistik sebagai seorang jurnalis. Proses verifikasi adalah proses membangun dan mengonfirmasi kebenaran. Dan proses ini yang seharusnya dimiliki oleh netizen, sebelum meng-klik "share" pada suatu posting di WhatsApp, Facebook, dan lainnya. Dan coba ingat kembali, negara Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi yang baik disaat ekonomi dunia sedang kritis. Bukankah kalau negara kita hancur, investasi terhadap Indonesia akan beralih ke negara lain?

Comments

Popular Posts